Jumat, 30 November 2007

?_?

Kecintaan atau kesetiaan seorang sahabat akan terlihat pada waktu Perpisahan atau berpisah....

Coba Buktikan Saja....!!!

Selasa, 20 November 2007

Sebuah Pengakuan Diri....

Ya Allah… aku tak tahu perasaan apa yang sedang kurasakan saat ini. Yang jelas, kalau boleh jujur , aku senag sekali ketika mendengar namanya, nama yang saaangat indah. “Fulanah” (maaf boss142 belum bisa menyebutkannya sekarang).

Sungguh dia benar-benar bidadari yang sering kali menghiasi mimpi-mipiku saat ini. Aku sangat bahagia saat bertemu dengannya, melihat ia tersenyum….

Senyum yang sangat mendamaikan hatiku sejak pertama kali bertemu dengannya, lalu saat ini, aku malah akan lebih sering bertemu dengannya. Karena, dia berada ditempat yang sama denganku.

Ya Allah, yang maha berkehendak segala sesuatu , yang maha mengatur takdir kehidupan.
Tapi, benarkah ini cinta ? apakah engkau juga menganugerahkan cinta itu? Tapi, apakah seorang “Fulanah” boleh merasakan dan menikmati rasa indah itu? Bolehkah ? atau….?!
.
Wallahu a’laam Bish Showaab…..

Sebuah Renungan.......

Adakalanya....tanpa kita sadari, kita semakin jauh dari Allah....
Kita sibuk dengan urusan dunia... kita sujudpun, tanpa khusyuk kepada yang Esa... Tapi, Allah senantiasa memperhatikan kita....

Adakalanya.... kita mau pertolongan Allah..., Tapi, sebagian tawakkal kita adalah kepada makhluqNya... dan hanya tinggal sebagian lagi tawakkal kepada Allah... Bukankah cukup Allah sebagai penolong...?

Adakalanya... kita sangat inginkan sesuatu .... kita coba sedaya upaya.... tapi, kita lupa untuk meminta dari pemilik segala benda.....

Ya Allah.... Bantulah kami untuk mengingatMu dan untuk mensyukuri nikmatMu.... dan memperbaguskan ibadah kami kepada Mu.... Ya Allah.....^_^

Kamis, 08 November 2007

TERIMA KASIH SAHABATKU

Sahabatku terima kasih……..
Kau telah memberiku pengalaman dan arti sebuah persahabatan
Sebuah moment yang membuatku menjadi berarti
Sebagai seorang sahabat
Dan bahkan mungkin sebagai seorang manusia
Seorang manusia yang belum bisa berdiri sendiri
Selama ini aku berharap hidup dengan cinta darimu
Walaupun aku belum mendapatkannya
Atau mungkin aku tak akan pernah mendapatkannya
Tapi setidaknya aku telah memperolehnya dalam bentuk yang lain
Dalam dentuk yang mungkin lebih baik dan lebih berarti bagiku
Yaitu kasih sayang seorang sahabat

Aku teringat ketika menjadi lelaki paling aneh…
Lelaki yang waktu itu mangatakan bahwa aku mencintaimu
Dan saat itu juga mengatakan kalau aku ingin menjadi
seorang sahabat saja
Dilain waktu aku mengatakan kalau aku masih mempunyai “rasa” itu
Sebuah “rasa” yang indah dalam hidupku
Dan dilain waktu aku mengatakan aku ingin membunuh “rasa” itu
Lalu ingin ku buang jauh-jauh
Walaupun sampai sekarangpun belum bisa…

Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu
Aku ingin memilih tak memiliki “rasa” ini
Sehingga tak ada hati yang sakit
Dan tak ada jiwa yang gelisah dan tersiksa
Ini memang konsekuensi bagiku
Tapi tak apalah…
Karma kau telah memberiku dalam bentuk lain
Yaitu kasih sayang seorang sahabat


Untukmu Sahabatku ….

Kamis, 01 November 2007

=Surat Untuk Cintaku=

Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku

Tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin BERPACARAN denganmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada BIDADARI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanmu.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku…

Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu... aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA.

Wassalam


"Dan Alhamdulillah surat ini sudah tersampaikan kepada orang yang bersangkutan....

terima kasih buat semuanya yang sudah memberi boss142 semangat dan motivasi untu menyampaikan kepada orang yang bersangkutan sekali lagi terima kasih banyak.....^_^"

Sahabat itu Kekayaan Sebenarnya

Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah keterpurukan diri yang membuat garis hitam dalam catatan sejarah hidup saya. Catatan sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus meski banyak air sudah yang keluar dari sudut mata, meski banyak doa yang saya harap bisa meringankan beban yang teramat berat menanggung malu dan dosa masa lalu.

Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Saya datangi seorang guru untuk menceritakan semua gundah. Ia yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ia menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. "Bawa surat ini ke Masjid, temui anak-anak muda disana" hanya itu kalimat penutupnya.

Selepas maghrib, saya pun bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah- wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. "Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini" Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.

Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, "Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda." Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.

Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.

***

Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.

Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.