Selasa, 24 Maret 2009

aku ingin mencintaiMU

Tuhan, betapa aku malu...
atas semua yang Kau beri...
padahal diriku...
terlalu sering membuatMU kecewa...

entah mungkin karena ku terlena
sementara Engkau beri aku kesempatan
berulang kali agar aku kembali

dalam fitrahku sebagai manusia
untuk menghambakanMU
betapa tak ada apa-apanya
aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU
setulusnya, sebenar-benar aku cinta...
dalam do'a...,
dalam ucapan...,
dalam setaip langkahku...

aku ingin mendekatiMU selamanya...
sehina apapun diriku...
ku berharap untuk bertemu denganMU
ya RABBI...

Rabu, 11 Maret 2009

Anakku....

Nak, jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu, kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kau hadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmu dengan didikan yang sesuai dengan dinnul Islam, tuntunan kita seperti yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw kepada kita.

Ayah dan Ibu ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah putri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali.


Setelah tanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap, kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan.

Sejak dalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamu dan berupaya mengenalkanmu kepada Sang Pencipta, dengan bacaan ayat-ayat suci-Nya, dengan senandung-senandung shalawat Nabi, dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat da’wah dan rasa keimanan kepada Allah yang Esa.

Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidak mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinya berdo’ a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani dan menguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.

Begitu kau lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibu dan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu. Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan bacaan adzan dan iqomat ditelingamu, agar kalimat yang pertama kali kau dengar adalah kalimat Tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selama hidupmu.

Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikan semuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupaya supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selalu dekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supaya kapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karunia Ilahi itu kepadamu.

Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibu akan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah atau karena kau lapar. Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu dengan rela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik.

Sejak kau masih dalam ayunan, Ibu senantiasa membacakan do'a dalam setiap kegiatan yang akan kau lakukan. Ibu bacakan do'a mau makan ketika kau hendak makan, do’a mau tidur ketika kau mau tidur, dan do’a apa saja yang harus kau tahu dan kau amalkan dalam kehidupan keseharianmu. Ibu bacakan selalu ayat kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiap malam, dikala mengantarmu tidur, ayat-per ayat dan Ibu ulang berkali-kali hingga kau sanggup mengingatnya dengan baik, dengan harapan kau besar nanti menjadi penghafal Al Qu’ran.

Ketika kau sudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa kami duga, kau telah hafal berbagai macam do’a dan beberapa surat pendek. Ibu bersyukur dan bangga kepadamu. Muncul harapan dalam hati ini, kelak kau tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin belajar.

Tatkala kau mulai belajar sholat, dan usai sholat kau lantunkan do’a untuk orang tua, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do’a itu, karena do’amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang tak henti-hentinya di yaumil-akhir. Kaulah asset masa depan bagi umi dan abi. Kau akan mampu menolong umi dan abi di yaumil-akhir nanti, bila kau menjadi anak yang sholihah.

Nak, kehadiranmupun memberikan kepada Ibu dan Ayah pelajaran yang sangat berharga, kau mengingatkan kami
tatkala masih sepertimu. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh kakek nenekmu kepada kami, hingga Ibu dan Ayah tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua seperti mereka.

Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, karena kami ingin kaupun menjadi anak yang penyayang terhadap sesama. Kami hampir selalu menyertakan kata sayang dibelakang namamu saat memanggilmu, supaya hatimu senang dan gembira bersama Ibu dan Ayahi.

Saat kau memasuki usia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan. Alhamdulillaah, saat kau mulai sekolah, telah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga kami tidak kesulitan mencarikan sekolah untukmu. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri.

Keperluan sekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah, agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupaya membimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti kau mampu melayani dirimu sendiri.

Bila Ibu dan Ayah tidak mau melayanimu untuk hal-hal yang sudah dapat kau lakukan sendiri, itu bukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi justru sebaliknya. Karena Ibu dan Ayah sayang sekali padamu, kau tidak boleh terlalu dimanjakan, hingga saat kau besar nanti, kau jadi anak yang mandiri dan serba bisa.

Maafkan Ibu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketika kau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu dan Ayah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat kau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil. Semoga kau tidak salah sangka.

Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalu membatasi tontonan dan bacaanmu, karena dewasa ini sangat banyak media yang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itu semua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akan mendangkalkan akhlaq dan perilakumu. Ibu dan Ayah ingin, kau menjadi anak yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi Qur’ani, dan menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Inilah harapan Ibu dan Ayah kepadamu, sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, kami senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah Yang Esa, yang Berkuasa dan Maha Agung, agar tidak salah langkah dalam mendidikmu.

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a'yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin



[diambil dari berbagai sumber]

DUHAI PENDAMPINGKU

dimatamu tersimpan cinta yang suci
terbangun dalam pernikahan beda dunia
meski kau terbiasa hidup tanpa perih
namun kau ikhlas hidup bersahaja namun bahagia

duhai pendampingku akhlakmu permata bagiku
buat aku makin cinta
tetapkan selalu janji awal kita bersatu
bahagia sampai ke surga

maafkanku jika tak bisa sempurna
karna ku bukan lelaki yang turun dari surga
ketulusan hatimu anugerah hidupku
do'akan langkah kita tak terpisah untuk selamanya


amien.....

Jumat, 06 Maret 2009

Manusia, Agama dan Tuhan

Kadang-kadang suka terpikir, bagaimana manusia tanpa agama dan Tuhan. Disaat mereka membutuhkan pertolongan, mereka terus berharap kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Disaat ada permasalahan dalam hidupnya, dia selalu mencari penjelasan secara logika. Logika memang punya peranan penting dalam kehidupan, tapi agama pun tidak kalah pentingnya. Disaat tidak ada seorang pun yang bisa menerima airmatanya, kepada siapa lagi airmata itu ditujukan.

Disaat seorang manusia sudah mulai menuhankan ilmu pengetahuan, kebanyakan dari mereka akan mulai sombong dan merasa bisa menyamai Tuhan atau bahkan menyangkal adanya Tuhan. Padahal Albert Enstein seorang ilmuwan terkenal pernah berkata "Science without religion is lame, religion without science is blind".

Mungkin ada alasan tersendiri kenapa Enstein mengeluarkan pernyataan seperti itu. Padahal bisa saja beliau dengan otak cemerlangnya itu mengatakan dirinya setaraf dengan Tuhan. Tapi ternyata tidak begitu, karena dalam setiap agama di dunia ini semuanya mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan belum pernah ditemukan satu pun agama yang mengajarkan untuk sombong, mencuri, memperkosa, membunuh dan hal jelek lainnya.Intinya nilai-nilai kebaikan itu hanya ada pada agama, atau setidaknya mengadopsi dari agama. Kalaupun ada mungkin itu adalah sekte.

Oleh sebab itu dikatakan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang, karena semakin tinggi ilmu yang didapat, seseorang cenderung melakukan sesuatu yang jelek. Contoh, seandainya anda menemukan alat yang bisa menghilangkan diri anda, apakah anda menjamin bahwa anda ngga akan mencuri, mengintip orang mandi dan lain-lainnya kalau tidak di imbangi dengan nilai-nilai kebaikan dari agama ? Bahkan Enstein sendiri pernah menyesal kalau ternyata salah satu hasil temuannya digunakan untuk saling membunuh.

Bagi mereka yang menganut paham atheist, agama hanyalah dogma atau bahkan seperti disebut oleh Karl Marx bahwa agama itu adalah candu masyarakat, Nietszche pun mengkampanyekan slogan "Tuhan sudah mati". Memang, pada awal abad kesembilanbelas, atheisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat otonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan.

Tuhan pun seperti menjadi tokoh fiktif yang membodohi pemikiran-pemikiran manusia dan membuat manusia menjadi cengeng dan bergantung kepada sesuatu yang tidak nyata. Beberapa dari mereka yang saya ajak berdiskusi tentang agama bahkan mengatakan "Agama ? wah gak ada waktu deh buat dongeng...". Dan sikap ini memang sudah diprediksikan di dalam surat Al Qalam ayat 15, "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata "Ini adalah dongengan orang-orang dahulu kala".

Fenomena atheist ini di abad keduapuluh semakin menjadi dengan adanya konflik-konflik yang berbau agama. Dan mungkin, karena peristiwa-peristiwa itu muncullah suatu pemikiran baru yang disebut "liberalism" atau kalau di islam ada sebutan "islam liberal". Pemikiran yang mencetuskan dimana semua agama adalah sama. Dimana dalam pemikiran ini sangat lekat dengan unsur sikap toleransi beragama tanpa harus melihat hukum-hukum dari masing-masing agama itu sendiri.

Contoh kasus yang mungkin mendekati kebenaran tentang sebab-sebab seseorang menjadi atheist adalah, ketika seseorang mendapatkan petunjuk untuk memeluk suatu agama, pemikirannya terdistorsi oleh anggapan bahwa agama tersebut adalah agama kaum teroris dll. Atau ada juga beberapa yang mengaku ingin memeluk suatu agama tetapi merasa bimbang dan kurang yakin dengan konsep ketuhanan yang ditawarkan oleh agama tersebut. Dalam kasus inilah biasanya seseorang memutuskan untuk menjadi atheist, dan masih banyak lagi contoh kasus yang lain.

Tapi biasanya ketika seseorang mencapai akhir hidupnya, barulah mereka mengakui adanya Tuhan. Kalau kita membaca biografi Hitler, apa yg dia ucapkan sewaktu menjelang kematiannya ? nafas-nafas terakhir beliau mengucapkan kata "Oh my God" dan nama "Eva Braun".

Kruschev yang atheist, saat Sovyet pertama kali berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa jauh sebelum apollo Amerika ada, dengan angkuhnya beliau berkata "Sudah kami jelajahi ruang angkasa, tak satu Tuhan pun kami temukan". Ironisnya menjelang sakratul maut beliau mengucapkan "Oh My God".

Begitu juga ketika semua persoalan tidak bisa lagi dijawab dengan logika dan ilmu pengetahuan, maka pemikiran itu beralih ke Tuhan seperti tokoh besar filsuf atheist Antony Flew yang akhirnya berpaling kepada Tuhan dan mengeluarkan pernyataan "Karena orang-orang sudah pasti terpengaruh oleh saya, saya ingin berusaha dan memperbaiki kerusakan besar yang mungkin telah saya lakukan."

Tapi mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan dan agama sebenarnya hanyalah cover dari proses pencarian mereka akan Tuhan dan agama yang paling benar dimana mereka nantinya akan berlabuh dari pengembaraan yang panjang. Hal ini yang tersirat dari seorang atheist yang iseng-iseng saya interview.Ketika saya tanya, "Will you ever convert from Atheism ?" Lalu jawabnya :

"When I find The One. A religion that I could totally identify and feel comfortable with. One that would give me a peace of mind instead of a hunger of power and dominance, or serenity instead of constant fear. It’s actually been a life long search for me. I guess you could say that I’m still waiting for that little voice in my heart telling me to go home....."


"Wa aniibuu ilaa rabbikum wa aslimuu lahuu min qabli ay ya'tiyakumul 'adzaa-bu tsumma laa tunsharuun"
(Dan kembalilah kamu kepada Rabb mu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang kepadamu azab, kemudian kamu tidak dapat ditolong)
[QS:Az Zumar 54]

Senin, 02 Maret 2009

Sebuah kedewasaan

Seorang teman bertanya, “Apa sih yang dimaksud dengan dewasa? Dan sikap bagaimana yang menunjukan dewasa?”
Saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah tanpa banyak berpikir. “Dewasa itu berarti bisa berpikir luas, berpikir jauh kedepan. Yang berarti harus bersikap dewasa.”
Namun sejenak jawaban saya atas pertanyaan itu membuat saya harus merenungkannya lagi. Dewasa itu adalah lawan dari kanak-kanak atau bersikap kekanak-kanakan. Dewasa itu tidak dilihat dari umur seseorang. Seperti kata slogan iklan, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan!”
Jadi apa sesungguhnya pengertian dewasa itu sendiri? Memberikan jawaban seperti itu memang mudah, walaupun kalau dibahas lebih dalam mungkin malah mengaburkan arti dewasa itu sendiri. Dewasa itu pilihan, artinya kita bisa memilih bersikap dewasa atau tidak. Dan seperti apa sikap dewasa itu?
Semakin bertambah umur kita, semakin banyak tanggung jawab yang harus dipikul. Anak kecil tidak usah berpikir untuk hidup. Mereka hanya menjalani hidup. Mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan tanpa banyak bersusah payah untuk mencapainya. Tanpa berpikir untuk hidup pun, mereka sudah hidup.
Orang dewasa harus berpikir untuk hidup. Mereka harus berusaha keras memenuhi kebutuhan untuk hidup. Dewasa berarti tanggung jawab. Lebih dari itu, orang dewasa harus bertahan hidup dalam berbagai keadaan. Bertahan ketika susah, bertahan pula ketika senang. Dan apa yang bisa membuat bertahan dalam segala keadaan? Kondisi seperti ini hanya bisa dilalui dengan menerima kenyataan dan berusaha membuat segalanya lebih baik dari sekarang.Dewasa berarti menerima. Menerima banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan. Menerima kenyataan yang berbicara lain dengan keinginan. Menerima bahwa manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang berkehendak.
Dari salah satu artikel yang saya dapat dari salah seorang teman (maaf saya tidak tahu sumber aslinya, dokumen.doc terkopi di pc saya yang berjudul “Bisakah Kedewasaan Dibentuk?”, sang penulis membagi kedewasaan menjadi 3 bagian
1.Kebebasan
2.Kesederhanaan
3. Tanggung Jawab
Garis besarnya pada artikel tersebut bisa disimpulkan bahwa dewasa itu adalah suatu kebebasan dalam bertindak dan mengambil keputusan, bebas dalam bersikap, tidak berlebihan dan tetap bertanggung jawab atas kebebasan yang dimiliki itu. Saya sendiri cenderung memandang kedewasaan itu sebagai tanggung jawab, sabar, dan sikap menerima atas kenyataan yang ada. Namun menerima bukanlah pasif dan pasrah saja terhadap kenyataan.
Pada artikel yang sama disebutkan, “Kedewasaan memang bukan sifat, ia cenderung berbentuk sebagai sikap, atau perilaku tindakan mahluk berwujud manusia.” Apabila kedewasaan berbentuk sebagai sikap, maka saya rasa ia bisa dibentuk melalui proses yang lama dan tentu saja terkadang menyakitkan. Kedewasaan bisa dicapai setelah melalui berbagai ujian kehidupan yang berat. Dan di dalam ujian itulah kita memilih, akankah kita bersikap dewasa atau tetap bersikap kekanak-kanakan?”
Jadi, saya rasa slogan iklan itu benar. Tinggal yang mana pilihan kita?
1. Ehm...
dewasa itu bisa dirasain diri sendiri ato orang lain yg ngeliat?
2. klo berbicara ttg kedewasaan itu makna kata yg luas ya ka’?!tapi pernah dengar dari seorang sahabat….Allah akan mempertemukan kita dengan jodoh kita jika kita sudah dinilai dewasa menurut penilaian Allah tentunya…jadi?????gimana???kapan bentuk panitia?!
3. kalo menurut gw dewasa ga’ bisa cuma bisa dilihat dari luar aja(ato secara fisikly), mungkin ada yang bersikap like a child , tapi sesungguhnya dia punya sisi kedewasaan , ga’ perlu bersikap seolah olah kita dewasa tetapi pikiran masih anak anak, intinnya be your self and biarkan kedewasaan itu dtang dengan sendirinnya dan ga’ perlu memaksakan diri untuk menjadi dewasa , that’s the point.