Jumat, 06 Maret 2009

Manusia, Agama dan Tuhan

Kadang-kadang suka terpikir, bagaimana manusia tanpa agama dan Tuhan. Disaat mereka membutuhkan pertolongan, mereka terus berharap kepada manusia dan mahluk-mahluk lainnya. Disaat ada permasalahan dalam hidupnya, dia selalu mencari penjelasan secara logika. Logika memang punya peranan penting dalam kehidupan, tapi agama pun tidak kalah pentingnya. Disaat tidak ada seorang pun yang bisa menerima airmatanya, kepada siapa lagi airmata itu ditujukan.

Disaat seorang manusia sudah mulai menuhankan ilmu pengetahuan, kebanyakan dari mereka akan mulai sombong dan merasa bisa menyamai Tuhan atau bahkan menyangkal adanya Tuhan. Padahal Albert Enstein seorang ilmuwan terkenal pernah berkata "Science without religion is lame, religion without science is blind".

Mungkin ada alasan tersendiri kenapa Enstein mengeluarkan pernyataan seperti itu. Padahal bisa saja beliau dengan otak cemerlangnya itu mengatakan dirinya setaraf dengan Tuhan. Tapi ternyata tidak begitu, karena dalam setiap agama di dunia ini semuanya mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan belum pernah ditemukan satu pun agama yang mengajarkan untuk sombong, mencuri, memperkosa, membunuh dan hal jelek lainnya.Intinya nilai-nilai kebaikan itu hanya ada pada agama, atau setidaknya mengadopsi dari agama. Kalaupun ada mungkin itu adalah sekte.

Oleh sebab itu dikatakan ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang, karena semakin tinggi ilmu yang didapat, seseorang cenderung melakukan sesuatu yang jelek. Contoh, seandainya anda menemukan alat yang bisa menghilangkan diri anda, apakah anda menjamin bahwa anda ngga akan mencuri, mengintip orang mandi dan lain-lainnya kalau tidak di imbangi dengan nilai-nilai kebaikan dari agama ? Bahkan Enstein sendiri pernah menyesal kalau ternyata salah satu hasil temuannya digunakan untuk saling membunuh.

Bagi mereka yang menganut paham atheist, agama hanyalah dogma atau bahkan seperti disebut oleh Karl Marx bahwa agama itu adalah candu masyarakat, Nietszche pun mengkampanyekan slogan "Tuhan sudah mati". Memang, pada awal abad kesembilanbelas, atheisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat otonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan.

Tuhan pun seperti menjadi tokoh fiktif yang membodohi pemikiran-pemikiran manusia dan membuat manusia menjadi cengeng dan bergantung kepada sesuatu yang tidak nyata. Beberapa dari mereka yang saya ajak berdiskusi tentang agama bahkan mengatakan "Agama ? wah gak ada waktu deh buat dongeng...". Dan sikap ini memang sudah diprediksikan di dalam surat Al Qalam ayat 15, "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata "Ini adalah dongengan orang-orang dahulu kala".

Fenomena atheist ini di abad keduapuluh semakin menjadi dengan adanya konflik-konflik yang berbau agama. Dan mungkin, karena peristiwa-peristiwa itu muncullah suatu pemikiran baru yang disebut "liberalism" atau kalau di islam ada sebutan "islam liberal". Pemikiran yang mencetuskan dimana semua agama adalah sama. Dimana dalam pemikiran ini sangat lekat dengan unsur sikap toleransi beragama tanpa harus melihat hukum-hukum dari masing-masing agama itu sendiri.

Contoh kasus yang mungkin mendekati kebenaran tentang sebab-sebab seseorang menjadi atheist adalah, ketika seseorang mendapatkan petunjuk untuk memeluk suatu agama, pemikirannya terdistorsi oleh anggapan bahwa agama tersebut adalah agama kaum teroris dll. Atau ada juga beberapa yang mengaku ingin memeluk suatu agama tetapi merasa bimbang dan kurang yakin dengan konsep ketuhanan yang ditawarkan oleh agama tersebut. Dalam kasus inilah biasanya seseorang memutuskan untuk menjadi atheist, dan masih banyak lagi contoh kasus yang lain.

Tapi biasanya ketika seseorang mencapai akhir hidupnya, barulah mereka mengakui adanya Tuhan. Kalau kita membaca biografi Hitler, apa yg dia ucapkan sewaktu menjelang kematiannya ? nafas-nafas terakhir beliau mengucapkan kata "Oh my God" dan nama "Eva Braun".

Kruschev yang atheist, saat Sovyet pertama kali berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa jauh sebelum apollo Amerika ada, dengan angkuhnya beliau berkata "Sudah kami jelajahi ruang angkasa, tak satu Tuhan pun kami temukan". Ironisnya menjelang sakratul maut beliau mengucapkan "Oh My God".

Begitu juga ketika semua persoalan tidak bisa lagi dijawab dengan logika dan ilmu pengetahuan, maka pemikiran itu beralih ke Tuhan seperti tokoh besar filsuf atheist Antony Flew yang akhirnya berpaling kepada Tuhan dan mengeluarkan pernyataan "Karena orang-orang sudah pasti terpengaruh oleh saya, saya ingin berusaha dan memperbaiki kerusakan besar yang mungkin telah saya lakukan."

Tapi mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan dan agama sebenarnya hanyalah cover dari proses pencarian mereka akan Tuhan dan agama yang paling benar dimana mereka nantinya akan berlabuh dari pengembaraan yang panjang. Hal ini yang tersirat dari seorang atheist yang iseng-iseng saya interview.Ketika saya tanya, "Will you ever convert from Atheism ?" Lalu jawabnya :

"When I find The One. A religion that I could totally identify and feel comfortable with. One that would give me a peace of mind instead of a hunger of power and dominance, or serenity instead of constant fear. It’s actually been a life long search for me. I guess you could say that I’m still waiting for that little voice in my heart telling me to go home....."


"Wa aniibuu ilaa rabbikum wa aslimuu lahuu min qabli ay ya'tiyakumul 'adzaa-bu tsumma laa tunsharuun"
(Dan kembalilah kamu kepada Rabb mu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang kepadamu azab, kemudian kamu tidak dapat ditolong)
[QS:Az Zumar 54]

1 komentar:

cita j mengatakan...

Artikel yang menarik...
Bagi saya, agama dan tuhan bukanlah hal yang bisa disamakan...
tak beragama, bukan berarti tak bertuhan...